Peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Udayana (PUPAR LPPM UNUD) didapuk sebagai narasumber pada “Tatkala May May May 2022”. Dua Peneliti PUPAR Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc. dan Agus Muriawan Putra, STTPar., M.Par., hadir pada Belajar Bersama Penulisan Desa Wisata di Sekretariat Mahima Institute di Jalan Pantai Indah III, Kota Singaraja, Rabu (26/5). Acara tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Kabupaten Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara,S.Sos., M.Si.

Kadisparda Buleleng Dody Sukma memaparkan keberadaan desa wisata di Kabupaten Buleleng berkembang sangat pesat. Tahun 2017 hanya terdata 31 desa wisata, menjadi 75 desa wisata per 11 Maret 2022. Lonjakan ini berkaitan dengan syarat penetapan desa wisata yang relatif mudah yakni sepanjang memiliki potensi daya tarik dan ada komitmen bersama antara masyarakat desa diwakili BPD (Badan Permusyawaratan Desa) dengan kepala desa maka desa bersangkutan bisa ditetapkan desa wisata rintisan. “Agar desa wisata rintisan menjadi desa wisata berkembang masyarakat setempat harus membangun secara swadaya, dibiayai APBDes, maupun menggali dana pembangunan fasilitas pariwisata maupun peningkatan kualitas memanfaatkan jejaring seperti CSR,” tutur Dody Sukma.
Ketika sebuah desa sudah menyandang predikat desa wisata rintisan, tutur Dody Sukma, dibutuhkan kesiapan masyarakat setempat untuk bekerja keras meningkatkan sapta pesona desa sehingga layak dikunjungi wisatawan. Penataan lingkungan ini diperkuat dengan penulisan narasi tentang desa wisata.Penulisan narasi desa wisata ditujukkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal (lengh of stay) dan meningkatkan jumlah uang yang dibelanjakan wisatawan (spending money).Berdasarkan Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Kemenparekraf RI, klasifikasi desa wisata yakni desa wisata rintisan, berkembang, maju dan mandiri. Kabupaten Buleleng, tambah Dody Sukma, memiliki desa wisata mandiri yakni Desa Wisata Pemuteran. “Sedangkan Desa Wisata Sudaji meraih prestasi membanggakan masuk 50 besar ADWI 2022,” tegasnya.

Agus Murian Putra, M.Par menjelaskan pengembangan desa wisata diawali dengan identifikasi potensi wisata setempat, selanjutnya dibuat paket wisata untuk dipasarkan. “Setelah produk wisata baru ditulis untuk dipasarkan,” tegas Mahasiswa Program Doktor Pariwisata Unud itu. Ditambahkan, penulisan desa wisata memiliki dua fungsi yakni menyamakan visi da misi pengembangan desa wisata di internal desa wisata dan mempublikasikan keberadaan desa wisata itu sendiri. Penulisan buku profil desa wisata menjadi bahan utama dalam peningkatan sadar wisata dikalangan pemangku kepentingan desa wisata terutama kalangan generasi muda. Sementara itu penulisan narasi di website, media sosial maupun media massa ditujukan untuk memperkenalkan desa wisata ke khalayak calon wisatawan.

Dr. I Made Sarjana membagikan kiat praktis penulisan desa wisata. Mantan wartawan Bali Post ini menganjurkan calon-calon penulis desa wisata untuk jeli memanfaatkan isu-isu aktual dalam menarik minat pembaca di dunia maya. Seorang penulis dapat berperan ganda yakni bertindak sebagai humas (hubungan masyarakat) desa wisata, dan bertindak sebagai pribadi. Sebagai humas, menulis dengan diksi yang lebih formal untuk diupload di website desa atau dishare ke media online. Penggunaan diksi informal untuk tulisan yang diupload di blog pribadi sehingga bisa lebih gaul dan dekat dengan kalangan pembaca. “Perbedaan peran ini penting disadari, karena bertindak sebagai humas, jika salah tulis tentu mempengaruhi citra desa wisata itu sendiri, sementara diblog pribadi implikasi kekeliruan lebih sempit,” tambah lulusan program Doktor Pariwisata Unud itu.

Mantan pegiat pers mahasiswa tahun 1990-an ini berbagi tips kepada penulis muda yang mengaku kebingunan darimana memulai penulisan desa wisata. Dalam konteks promosi desa wisata yang artinya produk wisatanya sudah ada, kata Dr. Made Sarjana, memulailah menulis sesuai preferensi wisata diri penulis. Seorang penulis saat berkunjung ke pantai ingin menikmati aktivitas wisata apa misalnya mencicipi kuliner lokal, atau swafoto. penulis wajib menggali berbagai data sebagai bahan tulisan mulai dari aktivitas/pengalaman wisata, suasana alam, hingga spot-spot foto yang mungkin dipublikasikan. “Pengetahuan teknik pengambilan gambar dan pemahaman lanskap menjadi penting untuk menentukkan spot foto menarik. Cobalah upload foto tersebut siapa tahu banyak teman yang punya suka sehingga menjadi viral. Ini kan menjadi kontribusi bagus dari penulis untuk pengembangan desa wisata,” tutur penulis buku “Agrowisata: Pariwisata Berbasis Pertanian” itu.
Kegiatan Belajar bersama Penulisan Desa Wisata diikuti kalangan mahasiswa dan perwakilan pengelola desa wisata yang ada di Kabupaten Buleleng. Made Adnyana Ole dari Mahima Institute berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal membangkitkan semangat menulis dikalangan pengelola desa wisata sehingga pemasaran desa wisata menjadi lebih profesional. (*)

